300x250 AD TOP

Powered by Blogger.

Category

Followers

Search This Blog

Category

Category

Top Game

We Are That Good Gamblers, Juragan Kiu (That's Us)

Tuesday, March 9, 2021

Tagged under:

Minim Interaksi Sosial, Belajar Online Picu Stres pada Anak

 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyoroti tekanan psikologis pada anak ketika diadakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran online akibat pandemi COVID-19. Tekanan tersebut bisa berupa stres akibat kurangnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan.


Bagi pelajar dan pelajar yang cepat atau mudah beradaptasi, pembelajaran online bukanlah masalah. Namun, tidak demikian halnya dengan anak-anak yang sulit atau tidak cepat beradaptasi.


Alih-alih efektif, PJJ justru menciptakan tekanan, terutama saat menghadapi ujian sehingga membuat anak kurang termotivasi untuk belajar. Tidak dapat dipungkiri, pandemi COVID-19 telah mengubah tata cara belajar mengajar dari tatap muka menjadi pembelajaran online di Indonesia.


Menurut laporan yang dikeluarkan oleh PwC dan UNICEF berjudul GenU (Generation Unlimited) pada tahun 2020, satu dari tiga siswa di seluruh dunia atau sekitar 463 juta anak muda tidak dapat mengakses pembelajaran online saat sekolah tutup.


Menurut Psikolog Intan Erlita, tekanan psikologis pada anak tidak lepas dari posisinya sebagai makhluk sosial. Dimana mereka perlu berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam hal ini tidak hanya orang tua, tetapi juga teman sebaya, guru, dan lingkungannya.


“Entah itu TK, SD, SMP atau SMA, mereka butuh kontak atau sosialisasi yang cukup tinggi. Pandemi membuat mereka kehilangan apa yang dikenal sebagai 'human relation', hubungan bagaimana mereka beradaptasi. Hal ini menimbulkan stres tersendiri,” tuturnya. , Selasa, 9 Maret 2021.


Kondisi ini diperparah dengan tuntutan belajar yang tinggi, banyak tugas, tetapi waktu yang tersedia untuk mengerjakan sedikit dan tidak ada waktu untuk aktualisasi diri.


Intan mengatakan, banyak anak yang akhirnya merasa bosan dan lelah pada level ini yang pada akhirnya berdampak tidak hanya pada skor yang lebih rendah tetapi juga emosi yang tidak terkendali.


“Jadi mereka gampang marah, semudah bertengkar dengan orang tuanya, mereka tidak nyaman dengan kondisi mereka. Inilah yang terjadi dengan anak-anak kita hari ini. Jadi ada dua syarat untuk masuk ujian, ada siswa yang “Ok saya siap” dan ada juga siswa yang konteksnya belum siap yang akhirnya stres, ”kata Intan.


Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Tidak hanya sebagai pendukung yang memberikan dukungan kepada anak dalam proses belajarnya, tetapi dapat diajak berdiskusi, menjadi pendengar yang baik, dan tentunya memberikan motivasi.


Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelas Cerdas Akademik, Maryam Mursadi menjelaskan, meski menurutnya demotivasi pada anak-anak terutama menjelang ujian sering terjadi, bukan berarti tidak bisa diatasi atau harus dihindari.


“Demotivasi muncul karena siswa belum siap menghadapi ujian atau mereka tahu betul bahwa mereka belum siap menghadapi ujian, tapi tidak tahu bagaimana mencari jalan keluarnya. Di sinilah persiapan dari awal sangat penting,” jelas Maryam.


Untuk itu, Smart Class punya solusinya. Misalnya ketika materi ajar secara virtual tidak semua siswa dapat memahaminya. Selain itu, karena koneksi internet terputus. Banyak masalah teknis bisa terjadi.


“Ketika siswa ketinggalan atau kurang paham materi pelajaran tertentu, mereka bisa menggunakan fitur Teacher dan Ask, sehingga bisa mendapatkan penjelasan yang menyeluruh dan menjawab setiap soal latihan. Dengan demikian belajar online atau PJJ tidak menjadi beban,” terangnya.

Situs Poker Online | Agen Poker Online | Bandar Judi Poker Online | Juragan Kiu



0 comments:

Post a Comment