300x250 AD TOP

Powered by Blogger.

Category

Followers

Search This Blog

Category

Category

Top Game

We Are That Good Gamblers, Juragan Kiu (That's Us)

Saturday, April 10, 2021

Tagged under:

5 Sikap Gak Tegaan yang Tak Tepat

 

Ilustrasi, sumber foto: Pixabay


Juragan Kiu - Sangat mudah merasa tidak tega biasanya dianggap sebagai sifat yang baik. Itu menandakan kelembutan, kepekaan terhadap kondisi orang lain. Tapi ternyata tidak selalu sebagus itu, lho.


Faktanya, hal itu bisa berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain jika situasinya tidak tepat atau terlalu berlebihan. Meskipun kita tidak tega didasarkan pada besarnya kasih sayang. Seperti lima perasaan berikut yang tidak bisa dijadikan kebiasaan.


1. Tidak tega mengajari anak kemandirian dan tanggung jawab


Padahal kedua hal ini sangat penting untuk kehidupan masa depan anak. Seiring bertambahnya usia, dia harus bisa mandiri dan menjadi orang yang bertanggung jawab. Jika tidak, dia akan selalu bergantung pada orang lain.


Ingat, kita tidak akan bersama anak-anak selamanya. Jangan sampai karena kita tidak pernah mengajarkan kemandirian, dia menjadi beban bagi orang lain. Dia juga tidak tahu bahwa dia mampu melakukan banyak hal sendiri.


Lalu tentang tanggung jawab. Jika kita tidak mengajarkannya, siapa lagi? Jangan sampai anak-anak yang kita sayangi tumbuh menjadi karakter pengecut. Dia suka melempar batu, menyembunyikan tangannya atau bahkan menyalahkan orang lain untuk melindungi dirinya sendiri.


2. Terlalu gak tega melihat kesulitan orang lain, malah membantu orang yang salah


Pada umumnya orang yang sedang dalam kesulitan sangat membutuhkan pertolongan. Namun, kita tetap harus berhati-hati. Bukannya pelit, tapi ternyata tidak semua orang butuh bantuan.


Misalnya, orang malas yang tidak pernah mau mencoba mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Dia dalam masalah keuangan dan kita memberinya pinjaman. Alih-alih digunakan dengan sebaik-baiknya untuk modal usaha, malah digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak penting bahkan buruk untuk diri sendiri.


Suka minum atau berjudi. Jika sudah seperti ini dan dia datang lagi untuk meminta pinjaman, apakah kita masih akan 'membiayai' sifat malasnya dan menyia-nyiakan hidupnya? Masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan bantuan.


3. Tak tega menolak cinta, malah terjebak dalam hubungan cinta yang tak membuat bahagia


Terkadang masih ada kekhawatiran bahwa kita akan mengalami kesialan jika kita menolak cinta seseorang. Entah karena orang tersebut tidak terima cintanya bertepuk sebelah tangan atau karena kita sepertinya menyia-nyiakan karunia untuk dicintai.


Tapi bayangkan jika kita asal saja menerima cinta seseorang, ingin menjadi pacar atau bahkan pasangan seumur hidup. Bagus jika cinta bisa tumbuh seiring waktu. Bagaimana jika tidak?


Kita pasti akan sangat menderita. Tidak hanya itu, pasangan kita bisa merasa jauh lebih menyakitkan daripada jika kita jujur ​​dan menolak cinta mereka di masa lalu. Belum lagi jika kita malah jadi tergoda untuk selingkuh. Wow, semakin parah!


4. Tidak tega mengatakan pahitnya kebenaran untuk menyenangkan orang dengan kebohongan


Misalnya, kita kehilangan pekerjaan. Otomatis kita juga kehilangan penghasilan, kan? Tapi kita merasa sangat sulit untuk memberi tahu pasangan. Kita tidak ingin pasangan khawatir.


Alhasil, hidup berjalan seperti biasa. Tidak ada upaya untuk menekan pengeluaran, bahkan mungkin pasangan tersebut memiliki ide untuk berlibur bersama yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kita juga merasa gak leluasa untuk mencari pekerjaan baru karena tidak ingin tertangkap olehnya.


Berapa lama kita ingin bersandiwara? Bagus jika pekerjaan baru didapatkan dengan cepat. Jika tidak, situasinya pasti akan menjadi lebih rumit. Namun jika kita segera memberi tahu pasangan kita, dia dapat membantu kita melewati masa sulit ini.


5. Tidak tega pada diri sendiri sehingga menolak untuk belajar dan bekerja lebih keras


Ini hanyalah sedikit perbedaan antara terlalu menyayangi diri sendiri dan benar-benar malas. Makanya, kita harus pintar-pintar membedakannya. Jangan sampai dengan alasan tidak ingin hidup ngoyo, kita tidak melakukan yang terbaik dalam belajar dan bekerja.


Jika itu terjadi, masa depan kita sendiri yang dipertaruhkan. Kemampuan kita tidak berkembang, penghasilan kita tidak pernah meningkat atau terus menurun. Setelah sekian lama, kita tidak bisa bertahan di tengah kerasnya hidup.


Saat kita masih muda, kita harus menggunakannya untuk belajar dan bekerja keras. Selama kita masih tahu kapan harus istirahat, pasti aman. Kelelahan fisik dan psikis masih dalam batas wajar dan dapat diatasi dengan mudah dengan istirahat yang cukup.


Mengubah sifat terlalu mudah tidak sampai hati alias gak tegaan memang butuh ketegasan pada diri sendiri. Jangan terlalu lembek dan mengutamakan perasaan. Logika harus digunakan untuk menyeimbangkan perasaan agar apa yang kita lakukan tetap masuk akal.

Situs Poker Online | Agen Poker Online | Bandar Judi Poker Online | Juragan Kiu

0 comments:

Post a Comment